Categories
Pendidikan

Lead Time

Lead Time

Dari sudut pandang konsumen, hanya ada satu lead time yaitu waktu yang dibutuhkan dari pemesanan sampai ke pengiriman. Jelas sekali pandangan konsumen tersebut merupakan variabel persaingan yang sangat penting ketika semakin banyak persaingan. Namun demikian, hal tersebut hanya menggambarkan sebagian dari sudut pandang lead time. Hal yang tak kalah pentingnya adalah lead time yang dilihat dari sudut pandang pemasok, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mengubah pesanan menjadi pemasukan dalam bentuk tunai dan juga jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menjadikan modal usaha dari hasil pembayaran konsumen.

 

1. Siklus Pemesanan ke Pengiriman

Dari sudut pandang pemasaran, waktu yang diperlukan dari penerimaan pesanan menuju ke pengiriman (biasa disebut sebagai order cycle time/OCT) sangatlah penting. Pada lingkungan just in time saat ini, lead time yang pendek merupakan sumber utama untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Hal yang sama pentingnya adalah ketahanan atau kekonsistenan dari lead time tersebut. Hal yang sering diperbincangkan adalah bahwa keandalan pengiriman lebih penting dari lamanya siklus pemesanan. Dampak yang terjadi akibat kegagalan pengiriman yang tepat waktu lebih ringan daripada kebutuhan untuk pemesanan barang tersebut kembali. Namun demikian, lead time yang lama akan membutuhkan peramalan jangka panjang.

Tiap tahapan dalam OCT memerlukan waktu. Karena adanya bottleneck, ketidakefisienan proses dan fluktuasi pada jumlah pesanan yang ditangani menyebabkan adanya beberapa variasi yang dapat dipertimbangkan untuk menyelesaikan aktivitas pesanan tersebut. Efek yang dapat ditimbulkan dari kesalahan rangkaian proses ini dapat menyebabkan berkurangnya kepercayaan karena lamanya proses pengiriman.

 

2. Siklus cash to cash

Seperti telah Anda pelajari sebelumnya, perhatian mendasar dari sebuah organisasi adalah: “berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sebuah pesanan menjadi uang tunai?”. Pada kenyataannya masalah yang ada bukan hanya pada berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproses suatu pesanan dan menerima pesanan, tetapi juga sepanjang apa pipeline dari pencarian sumber bahan baku sampai ke produk jadi, karena melalui pipeline tersebutlah sumber daya yang ada dikonsumsi dan modal kerja yang ada digunakan.

Pada saat ketika pesanan diterima, maka proses akan dimulai. Keputusan–keputusan penting segera dibuat. Dimulai dengan pengadaan bahan dan komponen pendukung, diproses, dirakit, sampai dengan proses distribusi akhir. Dalam rangkaian produksi dan distribusi ini akan memerlukan waktu. Waktu tersebut akan terepresentasi oleh jumlah hari sebuah persediaan berada pada pipeline baik itu dalam bentuk bahan baku, proses kerja, persediaan sementara atau waktu yang dibutuhkan untuk memproses pemesanan, dan juga waktu yang dihabiskan pada proses produksi, waktu antrian ataupun bottleneck dan sebagainya. Pengaturan pada keseluruhan pipeline inilah yang menjadi kajian utama pada manajemen logistik lead time.

 

Safety Stock yang terdapat pada Pipeline

Seperti yang telah Anda pelajari, semakin panjang pipeline dari bahan baku sampai ke pengguna terakhir berarti semakin kurang responsif terhadap permintaan sistem tersebut. Akan jadi permasalahan apabila pipeline yang panjang tersebut tidak dapat menampilkan gambaran permintaan akhir sehingga akan terdapat kesulitan untuk menghubungkan proses produksi dan keputusan pengadaan dengan kebutuhan pasar. Selain itu kita juga akan menemukan sebuah lingkungan yang dibangun sebagai penyangga pada setiap langkah pada rantai pasok. Perkiraan yang biasa dilakukan menghasilkan suatu langkah yang disarankan yaitu jumlah safety stock yang terdapat pada pipeline, bervariasi sesuai dengan akar pangkat dua dari panjang pipeline.

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dan memastikan waktu respon yang tepat untuk mengatasi ketidakstabilan permintaan dibutuhkan sebuah pendekatan yang baru dan mendasar pada manajemen lead time.

 

Sumber : https://sarjanaekonomi.co.id/